Future Video

Showing posts with label ORGANISASI. Show all posts
Showing posts with label ORGANISASI. Show all posts

Sunday, 24 February 2013

Sejarah Barisan Ansor Serbaguna Nahdlatul Ulama (BANSER)

|0 komentar

Tahun 1924 dengan berlatar belakang pada berdirinya organisasi kepemudaan yang bersifat kedaerahan seperti Jong Java, Jong Ambon, Jong Sumatera, Jong Minahasa, Jong Celebes berdiri organisasi kepemudaan Syubbanul Wathan yang berarti Pemuda Tanah Air yang berdiri di bawah panji Nahdlatul Wathan yang didirikan oleh KH. Abdul Wahab Hasbullah dan dipimpin oleh Abdullah Ubaidmelalui media khusus telah memiliki anggota 65 orang. Perkembangan selanjutnya Subbanul Wathan disambut baik oleh Barisan Ansor Serbaguna (Banser) sebagai elemen unsur pemuda sehingga ratusan pemuda mencatatkan diri sebagai anggota, karena aktifitas organisasi ini menyentuh kepentingan dan kebutuhan pemuda saat itu.

Karena Subbanul Wathan telah diterima baik oleh Barisan Ansor Serbaguna (Banser) pemuda maka membentukorganisasi kepanduan yang diberi nama Ahlul Wathan (Pandu Tanah Air) sebagai inspektur umum kwartir Imam Sukarlan Suryoseputro. Kelanjutan perkembangan organisasi ini sampai apada masalah-masalah Barisan Ansor Serbaguna (Banser) yang menitikberatkan pada aspek kebangsaan dan pembelaan tanah air.

Setelah Nahdlatul Ulama (NU) berdiri (31 Januari 1926) kegiatan organisasi agak mengendor karena beberapa orang pengurusnya aktif dan disibukkan untuk mengurus organisasi NU.

Atas dasar pemikiran dan upaya Abdullah Ubaid dan Thohir Bakri pada tahun 1930 mengembangkan dan membangun organisasi yang berpengaruh di tingkat nasional yang diberi nama Nahdlatus Subban (Kebangkitan Pemuda), yang dipimpin oleh Umar Burhan.

Dengan latar belakang pengarahan KH. Abdul Wahab (guru besar kaum muda waktu itu) beliau menyebut beberapa ayat suci Al-Qur’an yang mengisahkan kesetiaan para sahabat Al-Khawariyyin yang tidak kepalang tanggung menolong perjuangan para Nabi menyiarkan ajaran Islam dengan pengorbanan lahir maupun batin, mereka tampil sebagai pejuang yang tangguh dalam membela dan membentengi perjuangan Islam, kemudian Nabi memberi nama penghormatan kepda mereka dengan sebutan Ansor yang berarti mereka yang menolong. Kemudian pada tanggal 24 April 1934 berdirilah organisasi ANO yang berarti Ansoru Nahdlatul Oelama yang dimaksudkan dapat mengambil berkah (Tabarrukan) atas semangat perjuangan para sahabat Nabi dalam memperjuangkan dan membela serta menegakkan agama Allah. Diharapkan kelak senantiasa mengacu pada nilai-nilai dasar sahabat ansor yang selalu bertindak dan bersikap sebagai pelopor dalam memberikan pertolongan untuk menyiarkan, menegakkan dan membentengi ajaran Islam. Inilah komitmen yang seharusnya senantiasa dipegang teguh oleh para anggota Gerkan Pemuda Ansor.

Melalui kongres I tahun 1936, Kongres II Tahun 1937 dan Kongres III tahun 1938 memutuskan ANO mengadakan Barisan Berseragam yang diberi nama Banoe (Barisan Nahdlatul Oelama) dengan merinci jenis riyadloh yang diperbolehkan:
1. Pendidikan baris berbaris
2. Latihan Lompat dan Lari
3. Latihan angkat mengangkat
4. Latihan ikat mengikat (Pioner)
5. Fluit Tanzim (belajar kode/isyarat suara)
6. Isyarat dengan bendera (morse)
7. Perkmpungan dan perkemahan
8. Beljar menolong kecelakaan (PPPK)
9. Musabaqoh Fil Kholi (Pacuan Kuda)
10. Muromat (melempar lembing dan cakram)

Dari perkembangan-perkembangan yang terjadi inilah maka ANO kemudian menjadi Gerakan Pemuda Ansor dan Banoe menjadi Barisan Ansor Serbaguna atau disingkat dengan Banser.

Saturday, 2 June 2012

Organisasi

|0 komentar
Organisasi : Kunci Sukses Implementasi Rencana Strategis
Orang mengatakan bahwa membuat perencanaan jauh lebih mudah dari pada mengimplementasikannya. Anggapan ini sangat beralasan karena proses formulasi strategi hanya melibatkan sedikit orang yang terdiri dari manajemen tingkat atas, sedangkan implementasi renca...na strategis selalu melibatkan banyak orang dengan berbagai level dan fungsi yang beragam.
Menurut Mc Kinsey, perubahan rencana strategis perusahaan seharusnya mempunyai implikasi terhadap perubahan organisasi. Agar strategi perusahaan bisa diimplementasikan dengan baik, maka perubahan strategi secara serempak harus diikuti pula dengan penyesuaian organisasi agar sesuai dengan tuntutan strategi yang akan dijalankan.  
Organisasi dalam artian luas tidak hanya berarti struktur saja, tetapi juga mencakup sistem, kompetensi (staff & skill), serta kultur (shared value, style). Faktor faktor dalam organisasi yang berpengaruh terhadap keberhasilan implementasi perusahaan ini selanjutnya disebut sebagai 7's Mc Kinsey:  
  1. Strategy :
Cara suatu perusahaan/organisasi dalam mencapai sasaran dan meningkatkan posisi persaingan yang lebih baik  
  1. Structure :
Upaya pembagian fungsi & tugas dalam perusahaan agar segala sesuatunya dapat berjalan secara tepat.  
  1. System :
Mekanisme/prosedur yang membuat struktur organisasi dapat berjalan: sistem perencanaan, pengendalian, budgeting, reward & punishment, dsb  
  1. Skill :
Kemampuan SDM yang diperlukan untuk menjalankan strategi.  
  1. Staffing :
Alokasi dan penempatan SDM sesuai dengan kebutuhan skill, knowledge, attitudelmentality.  
  1. Style :
Gaya manajemen yang diaplikasikan untuk menggerakkan organisasi.  
  1. Shared Value :
Nilai nilai yang ditumbuhkembangkan untuk mengikat seluruh elemen organisasi.  
Secara umum pendapat Mc Kinsey ini didukung oleh Igor Anshoff. Jika Mc Kinsey menyatakan bahwa perubahan organisasi merupakan konsekwensi dari perubahan strategi, maka Igor Anshoff mengatakan bahwa implementasi strategi seringkali mengalami kegagalan yang disebabkan oleh karena organisasi yang ada tidak mempunyai kapabilitas dan mentalitas pimpinan yang tidak mendukung, atau tidak adanya sistem motivasi untuk berfikir dan berbuat secara strategis.  
Selanjutnya Patrick E. Connor & Linda K. Lake mempunyai pandangan bahwa tuntutan perubahan organisasi dapat juga berasal dari adanya perubahan internal dan perubahan lingkungan bisnis yang berpengaruh. Sebagaimana lingkungan bisnis, organisasi seharusnya juga bersifat dinamis dan secara fleksibel mudah menyesuaikan diri dengan setiap perubahan. Kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan akan menentukan kelangsungan hidup organisasi. Karena itu mengelola organisasi berarti mengelola perubahan.  
Karakteristik Proyek Strategis  
Setiap perusahaan yang berorientasi bisnis selalu menginginkan adanya pertumbuhan yang berkesinambungan (sustainable growth). Oleh karena itu ciri ciri dari perusahaan yang going concern adalah adanya program investasi (capital expenditure program). Namun demikian tidak semua proyek investasi bersifat strategis. Sebagai contoh, investasi untuk pemeliharaan rutin yang ditujukan untuk mempertahankan performance pabrik bukanlah proyek strategis karena investasi tersebut merupakan bagian dari operasional perusahaan.  
Karakteristik dari Proyek Strategis adalah:  
• Menyerap dan mengikat dana dalam jumlah relatif besar dalam jangka waktu lama. Sebagai konsekwensinya, fika terjadi kesalahan dalam perencanaan dan evaluasi kelayakan investasi, dampak negatif yang diderita perusahaan akan berlangsung dalam jangka panjang.
• Manfaat yang akan diperoleh perusahaan (misalnya keuntungan) baru akan dinikmati beberapa waktu kemudian (bulan atau tahun) setelah investasi dilakukan.
• Tingkat resiko yang ditanggung perusahaan lebih tinggi dibandingkan dengan investasi lain yang dilakukan dalam jangka pendek (misalnya penambahan jumlah persediaan, piutang dagang, dlsb.)
• Keputusan investasi proyek yang keliru tidak dapat direvisi begitu saja tanpa menderita kerugian yang besar (barrier to exit besar)  
Pengorganisasian Proyek  
Salah satu karakteristik proyek strategis adalah selalu menyerap biaya investasi yang relatif besar. Dalam skala pengelolaan proyek yang konvensional, pinjaman selalu disertai dengan adanya jaminan collateral yang belum tentu dapat dipenuhi oleh per Usahaan. Oleh karena untuk mendorong investasi timbul skema investasi yang disebut dengan project financing. Dalam skema ini sebagai pengganti collateral pada proyek konvensional, maka risiko investasi didistribusikan kepada para pihak yang terkait. Sebagai konsekwensinya kompleksitas pengelolaan proyek menjadi semakin bertambah, karena pengelolaan proyek juga harus dikaitkan dengan upaya untuk memperoleh sumber sumber pendanaan. Komponen penting dalam pengorganisasian proyek dapat diuraikan sebagai berikut,  
(1) Struktur
Struktur organisasi disusun untuk pembagian fungsi & tugas agar segala sesuatunya dapat berjalan secara tepat. Dalam organisasi proyek strategis, struktur seharusnya dibuat untuk mengakomodasi kompleksitas proyek yang ditangani. Sebagai gambaran, sebuah proyek yang dirancang dengan project financing seharusnya berbeda struktur organisasinya dibandingkan dengan proyek lain yang didanai dengan commercial loan, karena kompleksitas pennasalahan yang dihadapi jelas berbeda. Oleh karena itu pendefinisian activity breakdown sangat diperlukan sebelum merancang struktur organisasi.  
Pembagian fungsi & tugas pada hakekatnya adalah pendistribusian otoritas dan kewenangan. Ketepatan dalam pendistribusian otoritas dan kewenangan akan menentukan efisiensi struktur organisasi. Ketegasan mengenai otoritas dan kewenangan akan mendukung keberanian membuat keputusan yang didalam proyek biasanya diperlukan segera.  
(2) Sistem
Sistem merupakan mekanisme/prosedur yang disusun agar struktur organisasi dapat mencapai standar tolok ukur yang ditargetkan: sistem dan prosedur pengadaan, pengendalian dan pelaporan, budgeting, dsb. Sistem yang baik membuat orang biasa akan bekeria secara luar biasa, sebaliknya sistem yang kurang baik akan membuat orang yang luar biasa bekeria secara biasa biasa saja.
Salah satu sistem yang harus dikembangkan adalah sistem untuk memotivasi karyawan.  
Hal ini sangat penting karena setiap karyawan yang mendapatkan penugasan di proyek akan berhadapan dengan ketidakpastian mengenai keberlangsungan proyek. Sebagaimana diketahui, siklus proyek terdiri dari tahapan conception, proposal & bidding, project execution, dan commissioning. Potensi pembatalan proyek masih terjadi pada tahap conception dan tahapan bidding.  
Proyek baru dipastikan akan berjalan (point of no return) pada saat EPC contract signing dan financial closing. Selama kedua event tersebut belum terjadi, risiko pembatalan proyek masih akan selalu membayangi. Mengadopsi pemikiran Maslow tentang kebutuhan manusia, besaran pendapatan bukanlah satu satunya sumber motivasi karyawan. Setidaknya terdapat 4 sumber motivasi karyawan, yaitu : remunerasi, keamanan (security benefits), pengembangan diri, dan situasi lingkungan kerja yang kondusif  
(3) Competency (Skill & Staff)
Setelah struktur dirancang dan sistem didudukkan, maka langkah berikutnya adalah penempatan karyawan. Mengacu pada pepatah "the right man in the right place", pada dasarnya setiap orang akan bekerja optimal pada bidang yang sesual dengan kompetensinya. Oleh karena itu rancangan organisasi harus dilengkapi juga dengan postur kebutuhan karyawan sesuai dengan strategi implementasi rencana strategis yang akan dijalankan.  
Yang dimaksudkan dengan postur kebutuhan karyawan bukan hanya menyangkut jenis technical skilll keahlian yang dibutuhkan, tetapi juga karakteristik mentalitas dan perilaku yang sesual. Dalam konteks proyek, variasi pekerjaan dan lingkungan pekerjaan yang bersifat discontinuous menuntut adanya pimpinan dengan karakteristik market driven. Ciri ciri dari seseorang dengan karakteristik market driven antara lain adalah: menerima perubahan strategis sebagai sebuah dinamika bisnis, extrovert/membuka diri, serta berorientasi pada masa depan.  
(4) Culture (Shared value & Style)
Shared value merupakan nilai nilai yang ditumbuh kembangkan untuk mengikat seluruh elemen organisasi. Sedangkan style adalah gaya manaJemen yang diaplikasikan untuk menggerakkan organisasi.  
Dalam konteks proyek, penciptaan suasana kerja yang egaliter dan result oriented diperlukan untuk membangkitkan gairah dan motivasi bekerja. Oleh karena itu iklim merasa ikut memiliki dan ikut bertanggungjawab terhadap keberhasilan proyek perlu diciptakan. Sistem yang egaliter diterapkan dalam tatacara pergaulan dan komunikasi untuk pemecahan masalah. Meskipun demikian proses pengambilan keputusan dan komunikasi formal tetap mengikuti hierarki kewenangan dan tanggung jawab.  
Selain tugas tugas formal, penciptaan situasi kebersamaan melalui wahana team building sangat disarankan untuk organisasi proyek yang jenis dan lingkup pekerjaannya sangat bervariasi dengan batasan waktu yang ketat. Lingkungan kerja yang egaliter diperlukan untuk menghilangkan batas batas wilayah job desk tim ("borderless') sehingga cukup tersedia ruang fleksibilitas untuk mengalokasikan personil pada tugas tugas khusus yang penyelesaiannya membutuhkan personil dengan multi competencies.  
Penutup  
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa organisasi (dalam artian luas mencakup struktur, sistem, kompetensi, shared value, style) merupakan kunci sukses dalam implementasi rencana strategis perusahaan. Strategi perusahaan seringkali mengalami kegagalan karena organisasi yang ada tidak mempunyai struktur yang efisien, mentalitas pimpinan yang tidak mendukung, atau tidak adanya sistem motivasi untuk berfikir dan berbuat secara strategis.  
Pada dasarnya organisasi bersifat dinamis. Struktur yang sekarang belum ada, bisa dibuat struktur baru. Sebaliknya struktur yang ada bisa dihilangkan kalau memang sudah tidak sesuai dengan kebutuhan strategi perusahaan.  
Dalam menjalankan proyek strategis, struktur organisasi dirancang sesuai dengan kompleksitas proyek, bukan untuk mengakomodasi kepentingan perorangan. Oleh karena itu, didalam benak setiap karyawan harus mulai ditanamkan bahwa perubahan organisasi untuk menyesuaikan dengan strategi perusahaan adalah sesuatu yang wajar, Dengan demikian setiap karyawan juga slap menerima perubahan organisasi dengan segala konsekwensinya.

Monday, 10 January 2011

KE ORGANISASI AN

|0 komentar
PENDAHULUAN.


Telah banyak disebutkan bahwa manusia adalah makhluk sosial, sebagai makhluk sosial, manusia dituntut untuk saling mengenal satu sama lain, tidak terkecuali siapapun mereka dan golongan manapun mereka berasal ( Q.S. 49 : 13 ). Dalam interaksi ini manusia akan saling kerja sama untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, sebab manusia itu tercipta dalam kondisi yang sangat terbatas dan dengan spesialisasi yang berbeda-beda ( Q.S. 96 : 4 ) Kerja sama sangat dibutuhkan dalam upaya merealisasikan ciita-cita (keinginan). Dan dalam kerjasama sangat dibutuhkan pengaturan. Sebab tanpa adanya pengaturan dan pembagian kerja akan terjadi pemborosan tenaga dan biaya. Pengaturan dan pembagian kerja ini dinamakan Pengorganisasian, sedangkan wadahnya dinamakan Organisasi.

Organisasi merupakan wadah untuk mewujudkan cita-cita yang sangat efektif dan efisien, sebab dengan kebersamaan yang dibangun, akan menghasilkan bangunan yang kuat dan kokoh. Allah Swt sendiri menyatakan sangat menyukai bagi siapa saja yang berjuang secara bersama-sama (Q.S. 61 : 4). Dan sebaliknya Allah Swt melarang kita untuk tidak bersatu, dan sendiri-sendiri dalam memperjuangkan risalah-Nya. (Q.S. 3 : 103)

DASAR, PENGERTIAN DAN UNSUR-UNSUR ORGANISASI

A. DASAR ORGANISASI

1. Firman Allah dalam Surat As-Shof 4 :
ان الله يحب الذين يقا تلون قي سبيله صفا كانهم بنيا ن مرصوص

“ Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berjuang didalam agama-Nya secara berbaris (terorganisasi), seolah mereka merupakan bangunan yang kuat”.

2. Surat Ali Imron ayat 103
واعتصمو بحبل الله جميعاولاتفرقو

“ Dan berpegang teguhlah kamu semua kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai “.

3. Umar Bin Khottob r.a. berkata :

لااسللام الابالطاقة ولاطاقة الا بالجماعة ولاجماعةالا بالامارة ولا امارة الا بالطاعة
ولاطاعة الا بما قرض الله

“ Islam tidak akan berdiri tanpa diatur dengan organisasi, dan organisaisi tidak akan berjalan tanpa ada pemimpin, dan pemimpin tidak akan berkarya tanpa adanya ketaatan dari anggota “.


Dengan dasar tersebut kiranya menambah wawasan kita terhadap pentingnya berorganisasi, terlebih apabila kita amalkan dalam hidup dan kehidupan di masyarakat.


B. PENGERTIAN ORGANISASI.

Ada banyak difinisi tentang organisasi, diantaranya adalah :

1. Menurut Edgar Schein ( 1973 )
“ An Organization is the rational coordination of the activities of a number of people the achievement of some common explicit purpose or goal, through division of labor and function, and through a hierarchy of outhority and responsibilithy “
Artinya : “Organisasi adalah koordinasi yang rasional dari aktifitas-aktifitas sejumlah orang untuk mencapai beberapa tujuan yang jelas, melalui pembagian tugas dan fungsi serta melalui jenjang wewenang dan tanggung jawab.

2. Menurut Ananda W.P. Guruge ( 1977 )
“ Organization is defined as arranging a complex of task into managable uncts,and defining the formal relationships among the people who are assigned the various tasks “
Artinya : “ Organisasi didefinisikan sebagai pengaturan tugas-tugas yang kompleks menjadi unit-unit yang dapat diatur. Organisasi juga didefinisikan sebagai memastikan hubungan formal antara 0rang-orang yang menangani berbagai tugas.”
Dari dua definisi tersebut memberikan pengertian yang semakin memperjelas apa hakikat organisasi tersebut. Pada intinya organisasi adalah koordinasi rasional (kegiatan sejumlah orang untuk mencapai tujuan bersama).

C. UNSUR – UNSUR ORGANISASI

Melihat pengertian organisasi diatas maka unsur utama yang harus ada dalam suatu organisasi adalah :

1. Adanya orang-orang ( lebih 1 orang )
2. Adanya kerjasama.
3. Adanya tujuan yang diinginkan.

Dengan semakin kompleksnya suatu organisasi maka semakin bertambah pula unsur-unsur yangada dalam organisasi seperti halnya :

1. Adanya sarana dan prasarana penunjang.
2. Adanya kerjasama.
3. Adanya pembagian tugas, dan lain-lain.

Banyaknya unsur-unsur yang ada dalam suatu organisasi adalah tergantung seberapa banyaknya unsur-unsur yang diperlukan untuk menunjang berlangsungnya organisasi agar organisasi tersebut dapat mencapai tujuannya.

TUJUAN, PRINSIP DAN FUNGSI ORGANISASI

A. TUJUAN ORGANISASI.

Seluruh kegiatan organisasi harus berorientasi pada tujuan. Ini berarti bahwa tujuan organisasi harus dijadikan pedoman untuk merencanakan dan menyusun program kerja.
Begitu pentingnya kedudukan tujuan dalam penyusunan organisasi, maka tujuan organisasi perlu terlebih dahulu dirumuskan secara jelas, tertulis dan kemudian dikomunikasikan secara baik sehingga tujuan dapat dipahami oleh para anggota organisasi.

B. PRINSIP - PRINSIP ORGANISASI.

Salah satu diantara berbagai masalah organisasi yang banyak dijumpai adalah adanya gejala pemborosan waktu, tenaga, dan dana. Dengan hasil yangkurang optimal/memadai.
Salah satu jawaban yang penting artinya untuk pemecahan masalah tersebut adalah dengan organisasi yangefesien dan iklim kerja yang menggairahkan / dinamis.
Organisasi yangideal itu dapat dibentuk dan dibina dengan menggunakan beberapa prinsip organisasi sebabagai berikut :
1. Prinsip Pelimpahan Wewenang.
Seorang pemimpin yang bijaksana akan menedelegasikan sebagian wewenangnya kepada anggota pengurus lain yang dipercayainya, yang dirumuskan secarajelas, tetapi pendelegasian ini tidak membebaskan seorang pemimpin dari tanggung jawab yang diembannya.Pendelegasian ini diperlukan agar pemimpin lebih dapat memusatkan perhatiannya pada hal-hal yang memang harus ditangani sendiri.

2. Management By Exception ( Managemen dengan pengecualian )
Hal ini dimaksudkan agar tugas-tugas seorang pemimpin dapat dilaksanakan dengan baik, sehingga pengambilan keputusan yang dilakukannya hanyalah mengenai hal-hal yang vital saja.

3. Management By Objective ( MBO )
Prinsip ini menunjukkan agarseorang pemimpin selalu berorientasi pada tujuan dalam berbagai pengambilan keputusan. Jadi tujuan organisasi dijadikan pedoman dan ukuran keberhasilan dengan mengelola organisasi.

4. Span of Control ( Prinsip luasnya Pengawasan )
Seorang pemimpin dituntut untuk senantiasa melakukan control (pengawasan) terhadap seluruh anggota pengurusnya dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya.

5. Prinsip Pembagian Kerja ( Division of Work )
Dalam penyusunan struktur organisasi hendaknya diidentifikasikan macam dan jumlah pekerjaan yang diperlukan untuk pencapaian tujuan organisasi. Kemudian diatur pembagian beban kerja yang sepadan sehingga tersusun jalinan kerja yang harmonis.

6. Prinsip Kesatuan Komando
Dalam organisasi yang besar dan terdapat pembagian tugas yang sangat terspesiaisasi, diperlukan adanya kesatuan tugas dalam garis kepemimpinan dan strategi dasar untuk mewujudkan adanya kesatuan pengurus.

7. Prinsip Kemampuan Pengurus.
Dalam pemilihan dan penempatan anggota pengurus hendaknya memperhatikan kemampuan dan keahliannya. Dengan demikian dapat diwujudkan pedoman “ The Right man on the right place “

8. Prinsip Solidaritas Kelompok.
Dalam suatu organisasi hendaknya dapat dikembangkan kesetiakawanan, rasa persatuan, dan jiwa korps diantara anggota organisasi.


C. FUNGSI ORGANISASI.

Memperhatikan penjelasan diatas, maka tampak bahwa pada hakikatnya fungsi organisasi adalah sebagai wadah sekelompok orang yang memiliki kehendak/keinginan yang sama. Disamping itu, organisasi juga berfungsi sebagai upaya untuk mempermudah seseorang atau kelompok orang dalam mencapai tujuan.

JENIS DAN MANFAAT ORGANISASI.

A. JENIS / MACAM-MACAM ORGANISASI.

1. Dilihat dari cara terbentuknya.
Organisasi Insidental yaitu organisasi yang dibentuk untuk mencapai tujuan tertentu yang sifatnya sementara. Contoh : Kepanitiaan.

Organisasi Permanen yaitu organisasi yang dibentuk untuk mencapai tujuan tertentu dimana tujuan tersebut selalu berkembang sesuai dengan dinamika masyarakat dan didirikan untuk jangka waktu yang tidak terbatas.
Contoh : NU, IPNU – IPPNU, GP. ANSOR, FATAYAT, Dll

2. Dilihat dari bentuk / wujudnya :
Organisasi Formal yaitu organisasi yang dibentuk secara resmi dengan memilih anggota, tujuan dan aturan yang resmi pula ( PD/PRT )
Organisasi InFormal yaitu organisasi yang timbul melalui saluran yang tidak resmi, disebabkan karena hubungan pribadi dalam upaya memenuhi ambisi / kperluannya.

3. Dilihat dari tujuan berdirinya :
Organisasi Massa ( ormas ) disebut juga organisasi kemasyarakatan. Contoh : NU, IPNU, IPPNU, Muhammadiyah, IRM dll.
Organisasi Politik ( Orpol ) Organisasi yang bergerak dibidang sosial, perpolitikan. contoh : PKB, PAN, PDI-P, PPP dll.
Organisasi profesi ( Orprof ) yaitu organisasi yang anggotanya memiliki profesi / keahlian sejenis. Contoh : PWI, IDI, PGRI dll.

B. MANFAAT BERORGANISASI.

Sebagaimana difirmankan Allah SWT, bahwa manusia diciptakan atas berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal, maka organisasai adalah salah satu media yang efentif untuk mewujudkannya.

Adapun manfaat berorganisasi antara lain :
1. Meningkatkan Ukhuwah diantara sesama.
2. Menambah sahabat.
3. Meningkatkan wawasan / cakrawala pandang.
4. Sebagai media berlaatih hidup bermasyarakat.
5. Melatih kemandirian.
6. Menumbuhkan sikap dewasa.
7. Menumbuhkan rasa tanggung jawab.
8. Berfikir secara analitis dan kritis.


P E N U T U P

Uraian secara ringkas masalah-masalah yang berkaitan dengan organisasi diatas, semoga dapat menjadikan dorongan / motivasi bagi anggota-anggota baru IPNU – IPPNU khususnya dalam mengabdikan diri berorganisasi.

Semoga kita diberikan petunjuk dan kekuatan untuk berjuang menegakkan syariat-Nya melalui wadah IPNU – IPPNU.




SELAMAT BELAJAR – BERJUANG – BERTAQWA.

Friday, 15 October 2010

NU dan Ahlussunnah Wal Jamaah

|0 komentar
Dengan tidak memonopoli predikat sebagai satu-satunya golongan Ahlussunnah wal Jamaah, jam'iah Nahdlatul Ulama semenjak pertama berdirinya menegaskan diri sebagai penganut, pengemban dan pengembang Islam ala Ahlussunnah wal Jamaah. Dengan sekuat tenaga, Nahdlatul Ulama berusaha menempatkan diri sebagai pengamal setia dan mengajak seluruh kaum muslimin, terutama para warganya untuk menggolongkan diri pada Ahlussunnah wa Jamaah.

Pada hakekatnya, Ahlussunnah wal Jamaah, adalah ajaran Islam yang murni sebagaimana diajarkan dan diamalkan oleh Rasulullah saw. bersama para sahabatnya.

Ketika Rasulullah saw. menerangkan bahwa umatnya akan tergolong menjadi banyak sekali (73) golongan, beliau menegaskan bahwa yang benar dan selamat dari sekian banyak golongan itu hanyalah Ahlussunnah wa Jamaah. Atas pertanyaan para sahabat mengenai definisi as-Sunah wal Jamaah, beliau merumuskan dengan sabdanya:
ما انا عليه اليوم واصحابى

"Apa yang aku berada di atasnya, hari ini, bersama para sahabatku".


Ahlussunnah wal Jamaah adalah golongan pengikut setia pada al-Sunnah wa al-Jamaah, yaitu ajaran Islam yang diajarkan dan diamalkan Oleh Rasulullah saw. bersama para sahabatnya pada zamanya itu.

Ahlussunnah wal Jamaah bukanlah suatu yang baru timbul sebagai reaksi dari timbulnya beberapa aliran yang menyimpang dari ajaran yang murni seperti Syiah, Khawarij, Mu'tazilah dan sebagainya. As-Sunnah wal Jamaah sudah ada sebelum semuanya itu timbul. Aliran-aliran itulah yang merupakan gangguan terhadap kemurnian as-Sunnah wal Jamaah. Setelah gangguan itu membadai dan berkecamuk, dirasakan perlunya predikat Ahlussunnah wal Jamaah, dipopulerkan oleh kaum muslimin yang tetap setia menegakkan as-Sunnah wal Jamaah, mempertahankannya dari segala macam ganguan yang ditimbulkan oleh aliran-aliran yang mengganggu itu. Mengajak seluruh pemeluk islam untuk kembali kepada as-Sunnah wal Jamaah.
Peranan para Sahabat

Para sahabat, generasi yang hidup sezaman dengan Rasulullah saw. adalah generasi yang paling menghayati as-Sunnah wal Jamaah. Mereka dapat menerima langsung ajaran agama dari tangan pertama. Kalau ada yang belum jelas, dapat menanyakan langsung pula kepada Rasulullah saw. terutama al-Khulafa ar-Rosyidun:

* sahabat Abu Bakar as-Shiddiq ra,
* sahabat Umar bin Khatab ra,
* sahabat Utsman bin Affan ra,
* dan Sahabat Ali bin Abi Thalib ra.

Memang para sahabat adalah manusia biasa yang tidak memiliki wewenang Tasyri' (تشر يع = membentuk atau mengadakan hukum). Tetapi di dalam tathabiq (تطبيق = menerapkan prinsip-prinsip pada perumusan sikap dan pendapaat yan kongkret), peranan mereka tidak dapat dikesampingkan karena hanya ada kritik atau koreksi dari seseorang atau kelompok orang manusia biasa pula yang jarak zamannya sedemikian jauh dengan zaman Rasulullah saw. dan kemampuan penghayatannya terhadap as-sunnah wal Jamaah sulit diyakini melebihi kemampuan para sahabat.

Rasulullah saw. bersabda:
عليكم بسنتى وسنة الخلفاء الراشدين المهديين

"Haruslah kamu sekalian berpegang teguh kepada sunnahku dan sunnah para Khulafa ar-Rasyidin yang mendapat petunjuk." (HR. Ahmad)

Nahdlatul Ulama berpendirian teguh, bahwa al-Mahdiyyin (yang mendapat petunjuk) adalah sifat menerangkan kenyataan bukan sifat yang merupakan syarat yang membatasi. Artinya, memang semua Khulafa ar-Rosyidin itu, tanpa diragukan lagi adalah orang-orang yang mendapat petunjuk, bukan orang-orang yang sebagian mendapat petunjuk dan sebagian tidak. المهديين adalah sifat kata الخلفاء bukan sifat kata: سنة . Bahkan, jumhur ulama berpendapat bahwa para sahabat Rasulullah saw. adalah para tokoh yang diyakini kejujurannya didalam masalah penyampaian ajaran agama. Keragu-raguan terhadap kejujuran para sahabat merupakan salah satu bahaya bagi kemantapan saluran ajaran agama, apa alagi terhadap Khulafa ar-Rosyidin al-Mahdiyyin. Keraguan tersebut akan mengacaukan, mengaburkan dan mengeruhkan jalur-jalur yang harus ditelusuri sampai kepada as-Sunnah dan al-Qur'an.

Para sahabat yang mendengar ucapan, melihat perbuatan dan menghayati sikap (taqrir) Rasulullah saw. kemudian ucapan, perbuatan dan sikap Rasulullah saw itu dikumpulkan, dicatat dan dikodifikasikan. Para sahabat pula yang mendengar dan mencatat Rasulullah saw., membaca ayat-ayat al-Qur'an, kemudian dikumpulkan dan disusun menjadi mushaf yang sampai sekarang kita yakini sebagau mushaf al-Qur'an yang otentik.

Selain dalil-dalil qauli (bersifat ucapan) yang memberi kesaksian Rasulullah saw. atas kemampuan penghayatan para sahabat terhadap apa yang diajarkan oleh beliau, terdapat pula dalil-dalil yang sekaligus qauli dan fi'li (bersifat perbuatan tindakan). Beliau merestui beberapa sahabat melakukan ijtihad (mengerahkan daya pikir untuk mendapat kesimpulan pendapat berdasarkan atas pemahaman dan peghayatan terhadap nash al-Qur'an dan al-Hadits). Yang paling terkenal ialah ketika Rasulullah saw. mengutus sahabat Mu'adz bin Jabal ra. ke Yaman. Atas pertanyaan Rasulullah saw., sahabat Mu'adz ra memberi jawaban yang dapat dirumuskan:

1. Kalau sesuatu masalah ada dalilnya yang jelas didalam al-Qur'an, maka keputusan hukum diambil berdasarkan al-Qur'an
2. Kalau tidak terdapat dalam al-Qur'an dan terdapat didalam as-Sunnah, maka diambil berdasarkan as-Sunnah
3. Kalau tidak terdapat dalil yang jelas didalam al-Qur'an dan juga tidak terdapat didalam as-Sunnah, maka keputusan hukum diambil berdasarkan ijtihad (hasil daya pikir).

Pasti dapat diyakinkan oleh setiap pemeluk Islam, bahwa para sahabat bukanlah sekelompok orang yang dibina oleh Rasulullah saw. hanya untuk diri mereka sendiri tanpa berkelanjutan peranannya. Pasti para sahabat adalah generasi pertama kaum muslimin mengemban tugas melanjutkan missi dan perjuangan Rasulullah saw. mengembangkan ajaran agama Islam ke seluruh pelosok dunia kepada segenap umat manusia.

Allah berfirman:
وَمَآ أَرْسَلْنَٟكَ إِلَّا كَآفَّةًۭ لِّلنَّاسِ بَشِيرًۭا وَنَذِيرًۭا وَلَٟكِنَّ أَكْثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ ﴿٢٨﴾

"Dan kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya, sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Tetapi kebanyakan manusia tidak mengerti". (QS. As-Saba: 28)

Pasti para sahabat adalah pembawa cahaya Islam yang diterima dari Rasulullah saw. kepada generasi-generasi sesudahnya.

Rasulullah saw bersabda:
اصحابى كالنجوم بايهم اقتديتم اهدينتم

"Para sahabatku adalag ibarat bintang-bintang. Dengan siapa pun di antara mereka kamu sekalian ikut, maka kamu akan mendapat petunjuk".

Para sahabat, pasti bukan sekedar pembawa rekaman ayat-ayat al-Qur'an dan as-Sunnah sja, tetapi sekaligus adalah juga pembawa pentauladanan, penjelasan dan pendapat mengenai arti ayat al-Qur'an dan al-Hadits itu sesuai dengan penghayatannya.
Generasi sesudah Sahabat

Sesudah generasi sahabat, tugas melanjutkan missi dan perjuangan Rasulullah SAW. diterima oleh generasi baru yang disebut tabi'in (تابعين = para pengikut). Selanjutnya ganti berganti, berkesinambungan generasi demi generasi menerima misi dan perjuangan itu, para tabi'in, para Imam Mujtahidin, para Ulama Shalihin, dari zaman ke zaman.

Kalau pengumpulan dan penyusunan catatan-catatan ayat-ayat al-Qur'an sampai menjadi sebuah mush-haf yang otentik sudah terselesaikan pada zaman sahabat, maka pengumpulan Hadits baru dirintis dan dilakukan oleh para tabi'in. selanjutnya seleksi, kategorisasi, sistematisasinya digarap dan dirampungkan oleh generasi-generasi sesudahnya. Segala macam syarat, sarana dan metode untuk menyimpulkan pendapat yang benar dan murni dari al-Qur'an dan al-Hadits diciptakan dan dikembangkan. Mulai dari ilmu-ilmu bahasa Arab, Nahwu, Sharraf, Ma'ani, Badi', dan Bayan sampai kepada ilmu mantiq (logika) dan filsafat, dirangkaikan dengan ilmu tafsir, ilmu Mushthalahul Hadits sampai kepada Ushul Fiqh dan al-Qowa'id al-Fiqhiyah. Semuanya dimaksudkan untuk dapat mencapai kemurnian ajaran as-Sunnah wal Jamaah.

Bukan hanya guna mendapatkan ilmunya untuk diamalkan sendiri, tetapi sekaligus juga segala ilmu yang didapat itu di siarkan, di da'wahkan dan lebih dari untuk diamalkan oleh sebanyak mungkin umat.

Mereka as-Sabiqunal Awwalun ( السابقون الاولون = generasi terdahulu) itu bergerak ke segala penjuru dunia, dengan segala jerih payah, dengan penderitaan dan pengorbanan menyebarkan as-Sunnah wal Jamaah, Kaaffatan linnaas ( كافة للناس = kepada seluruh umat manusia). Tidak terkecuali ke tanah air Indonesia ini. Para Muballighin, atas resiko sendiri tanpa dukungan dari kekuasaan politik dan tanpa dukungan dari kekuatan materil yang berarti membawa as-Sunnah wal Jamaah itu kemari. Dengan tidak mengurangi penghargaan terhadap para Muballighin yang lain, tidaklah dapat dilewatkan menyebut jasa-jasa para wali Muballighin yang dikenal dengan istilah Wali Sanga, kelompok sembilan yang paling berkesan di dalam sejarah islam di Indonesia.
Sistem dan Methode

Bagi para sahabat Rasulullah saw. yang hidup se zaman dengan beliau, tidaklah terlalu sulit mendapatkan kemurnian ajaran agama Islam, karena jarak waktu dan jarak fisik yang sangat dekat. Namun makin jauh jarak fisik dengan sumber pertama, maka menjadi sulit untuk mendapatkan kemurnian as-Sunnah wal Jamaah itu, terutama karena besarnya gangguan-gangguan yang membahayakan kemurnian tersebut.

Kecuali jauhnya jarak dan adanya gangguan-gangguan, kesulitan untuk mendapatkan as-Sunnah wal Jamaah itu menjadi lebih berat, karena al-Qur'an hanya mengandung hal-hal yang prinsip sedang al-Hadits, meskipun lebih terperinci isinya, tetapi disampaikan oleh Rasulullah saw. secara parsial (sebagian-sebagian) sehingga satu masalah saja (umpamanya cara melakukan shalat) mungkin beratus-ratus jumlah al-Hadits yang berhubungan dengan masalah shalat ini. Belum lagi, seleksi al-Hadits dan latar belakang sejarah disampaikannya oleh Rasulullah saw.

Oleh karenanya, tidak semua orang mampu memahami sendiri dan menyimpulkan pendapatnya mengenai sesuatu masalah langsung dari al-Qur'an dan al-Hadits, secara benar sehingga dapat dipertanggung jawabkan kemurniannya. Dengan demikian diperlukan sistem yang dapat dipertanggung jawabkan, bagi seseorang yang perlu punya pendapat atau perlu melakukan sesuatu hal mengenai ajaran agama.

1. Bagi yang memenuhi syarat dan sarana untuk mengambil kesimpulan pendapat (istinbath = استنباط ) sendiri dapat menggunakan sistem ijtihad, yaitu ber-istinbath sendiri.
2. Bagi yang tidak memenuhi syarat atau yang meragukan kemampuannya sendiri, tidak ada yang dapat dilakukan kecuali mengikuti hasil ijtihad atau istinbath orang lain yang mampu, yang disebut dengan istilah sistem taqlid.

Memaksa semua orang beristinbath dan berijtihad sendiri, bukan saja tidak tepat tetapi juga sangat membahayakan kemurnian ajaran agama Islam, membahayakan as-Sunnah wal Jamaah. Rasulullah bersabda:
اذا وسد الامر الى غير اهله فانتظر الساعة

"Tatkala suatu perkara diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah saat (kehancuran saat perkara itu)."
Karakteristik

Karena as-Sunnah wal Jamaah itu tidak lain adalah ajaran agama Islam yang murni sebagaimana dianjurkan dan diamalkan oleh Rasulullah saw bersama para sahabatnya, maka perwatakan (karakteristik) nya adalah juga karakteristik agama itu sendiri.

Karakteristik agama Islam yang paling esensial adalah:

* Prinsip at-Tawassuth, jalan pertengahan, tidak tathorruf (ekstrem = تطرف ) kekanan-kananan atau kekiri-kirian.
* Sasaran Rahmatan lil ‘alamin, menyebar rahmat kepada seluruh alam.

Karakter At-Tawassuth wal I'tidal
Pengertian at-Tawassuth

As-Sunnah wal Jamaah adalah ajaran islam yang murni sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah saw. dan diamalkan oleh beliau bersama para sahabatnya. Oleh karena itu dapat dipastikan bahwa karakter as-Sunnah wal Jamaah serambutpun tidak bergeser dari karakter agama Islam sendiri. Karakteristik as-Sunnah wal Jamaah adalah karakteristik agama Islam.

Ada tiga kata istilah yang diambil dari al-Qur'an dalam menggambarkan karakteristik agama Islam, yaitu:

1. at-Tawassuth = التوسط
2. al-I'tidal = الاعتدال
3. at-Tawazun = التوازن.

At-Tawassuth = التوسط

yang berarti: pertengahan, diambil dari firman Allah swt. (dari kata wasathan = وسطا )
وَكَذَٟلِكَ جَعَلْنَٟكُمْ أُمَّةًۭ وَسَطًۭا لِّتَكُونُوا۟ شُهَدَآءَ عَلَى ٱلنَّاسِ وَيَكُونَ ٱلرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًۭا ۗ

"Dan demikianlah, kami telah menjadikan kamu sekalian (umat Islam) umat pertengan ( adil dan pilihan) agar kamu menjadi saksi (ukuran penilaian) atas (sikap dan perbuatan) manusia dan supaya Rasulullah saw. menjadi saksi (ukuran penilaian) atas (sikap dan perbuatan) kamu sekalian … (QS. Al-Baqarah: 143)
Al-I'tidal = الاعتدال

Berarti tegak lurus, tidak condong kanan dan tidak condong ke kiri, diambil dari kata al-Adlu ( العد ل) keadilan atau I'diluu ( اعد لوا = bersikap adillah) pada ayat:
يَٟٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُونُوا۟ قَوَّٟمِينَ لِلَّهِ شُهَدَآءَ بِٱلْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَـَٔانُ قَوْمٍ عَلَىٰٓ أَلَّا تَعْدِلُوا۟ ۚ ٱعْدِلُوا۟ هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ ﴿٨﴾

"Hai orang-orang yang beriman kendaklah kamu sekalian menjadi orang yang tegak (membela kebenaran) karena Allah swt. Menjadi saksi (pengukur kebenaran) yang adil (bil qisthi). Dan jangan sekali-kali kebencianmu kepada kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah keadilan itu lebih dekat kepada taqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah sesungguhnya Allah itu Maha Melihat terhadap apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Maidah: 8)
At-Tawazun = تشرالتوازن

berarti keseimbangan, tidak berat sebelah, tidak kelebihan suatu unsur atau kekurangan unsur yang lain. Diambil dari kata al-waznu atau al-mizan alat penimbang dari ayat:
لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِٱلْبَيِّنَٟتِ وَأَنزَلْنَا مَعَهُمُ ٱلْكِتَٟبَ وَٱلْمِيزَانَ لِيَقُومَ ٱلنَّاسُ بِٱلْقِسْطِ ۖ

"Sungguh kami telah mengutus rasul-rasul kami dengan membawa bukti kebenaran yang nyata dan telah kami turunkan bersama mereka al-Kitab dan Mizan (penimbnagn keadilan)supaya manusia dapat melaksanakan keadilan (al-qisth) … (QS. Al-Hadid: 25)

At-Tawassuth (termasuk al-I'tidal dan at-Tawazun), bukanlah serba kompromistis dengan mencampuradukkan semua unsur (sinkretisme). Juga bukan mengucilkan diri dari menolak pertemuan dengan unsur apa-apa. Karakter at-Tawassuth bagi Islam adalah memang sejak semula Allah swt sudah meletakkan di dalam Islam segala kebaikan, dan segala kebaikan itu pasti terdapat di antara ujung tatharruf, sifat mengujung, ekstrimisme. Prinsip dan karakter at-Tawassuth yang sudah menjadi karakter Islam ini harus diterapkan didalam segala bidang, supaya agama islam dan sikap serta tingkah laku umat Islam selalu menjadi saksi dan pengukur kebenaran bagi semua sikap dan tingkah laku manusia umumnya.
Penerapan Prinsip dan Karakter at-Tawassuth

Manifestasi prinsip dan karakter at-Tawassuth ini tampak pada segala bidang ajaran agama Islam dan harus dipertahankan, dipelihara dan dikembangkan sebaik-baiknya, terutama oleh kaum Ahlussunnah wal Jamaah, pengikut setia as-Sunnah wal Jamaah.
Bidang Aqidah

1. Keseimbangan antara penggunaan dalil aqli (argumentasional) dengan dalil naqli (nash al-Qur'an dan al-Hadits) dengan pengertian, bahwa dalil aqli dipergunakan dan ditempatkan dib awah dalil naqli.
2. Berusaha sekuat tenaga memurnikan aqidah dari segala campuran aqidah dari luar Islam.
3. Tidak tergesa menjatuhkan vonis musyrik, kufur dan sebagainya atas mereka yang karena satu dan lain hal belum dapat memurnikan tauhid/ aqidahnya, semurni-murninya.

Bidang Syari'ah

1. Selalu berpegang teguh pada al-Qur'an dan as-Sunnah, dengan menggunakan metode dan sistem yang dapat dipertanggungjawabkan dan melalui jalur-jalur yang wajar.
2. Pada masalah yang sudah ada dalil nash yang sharih dan qath'i (tegas dan pasti), tidak boleh ada campur tangan pendapat akal.
3. Pada masalah yang dhanniyat (tidak tegas dan tidak pasti), dapat di toleransi adanya perbedaan pendapat selama masih tidak bertentangan dengan prinsip agama.

Bidang Tashawwuf/Akhlak

1. Tidak mencegah, bahkan menganjurkan usaha memperdalam penghayatan ajaran Islam, denga riyadhoh dan mujahadah menurut kaifiyah yang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip hukum dan ajaran islam.
2. Mencegah ekstrimisme dan sikap berlebih-lebihan (al-Ghuluwwu) yang dapat menjerumuskan orang kepada penyelewengan aqidah dan syariah.
3. Berpedoman bahwa ahlak yang luhur selalu berada di antara dua ujung sikap yang mengunjung, misalnya:
1. Syaja'ah (الشجاعة) berani, di antara Jubn (penakut) dan at-Tahawwur (sembrono)
2. Tawadhu' (التواضع) menempatkan diri secara tepat, di antara takabbur (sombong) dan tadzallul (rendah diri)
3. Jud atau karom (الجود ـ الكرم) luman (Jawa-ed.) dan dermawan, di antara Bukhl (kikir) dan Israf (boros)

Bidang Mu'asyaroh (pergaulan) antar golongan

1. Mengakui watak tabiat manusia yang selalu senang berkelompok dan bergolong-golong berdasarkan atas unsur pengikatnya masing-masing.
2. Pergaulan antar golongan harus diusahakan berdasar saling mengerti dan saling menghormati
3. Permusuhan terhadap sesuatu golongan, hanya boleh dilakukan terhadap golongan yang nyata memusuhi agama Islam dan Umat Islam. Terhadap yang tegas memusuhi Islam, tidak boleh ada sikap lain kecuali sikap tegas.

Bidang Kehidupan Bernegara

1. Negara nasional (yang didirikan bersama oleh seluruh rakyat) wajib dipelihara dan dipertahankan eksistensinya.
2. Penguasa negara (pemerintah) yang sah harus ditempatkan pada kedudukan yang terhormat dan ditaati, selama tidak meyeleweng, dan/atau memerintah kearah yang bertentangan dengan hukum dan ketentuan Allah.
3. Kalau terjadi kesalahan dari pihak pemerintah, cara memperingatkannya melalui tata cara yang sebaik-baiknya.

Bidang Kebudayaan

1. Kebudayaan, termasuk di dalamnya adat-istiadat, tata pakaian, kesenian dan sebagainya adalah hasil budi daya manusia yang harus ditempatkan pada kedudukan yang wajar dan bagi pemeluk agama, kebudayaan harus dinilai dan diukur dengan norma-norma hukum dan ajaran agama.
2. Kebudayaan yang baik dalam arti menurut norma agama, dari manapun datangnya dapat diterima dan dikembangkan. Sebaliknya, yang tidak baik harus ditinggalkan. Yang lama yang baik dipelihara dan di kembangkan. Yang baru yang lebih baik dicari dan dimanfaatkan.

تشر المحافظة على القديم الصالح والاخذ بالجديد الاصلح

Tidak boleh ada sikap apriori, selalu menerima yang lama dan menolak yang baru atau sebaliknya selalu menerima yang baru dan menolak yang lama
Bidang Dakwah

1. berdakwah adalah mengajak masyarakat untuk berbuat menciptakan keadaan yang lebih baik, terutama menurut ukuran ajaran agama. Tidak mungkin orang berhasil mengajak seseorang dengan cara yang tidak mengenakkan hati yang diajak. Berdakwah bukan menghukum.
2. Berdakwah harus dilakukan dengan sasaran tujuan yang jelas, tidak hanya sekedar mengajak berbuat saja, menurut selera.
3. Berdakwah harus dilaksanakan dengan keterangan yang jelas, dengan petunjuk-petunjuk yang baik, sebgaimana seorang dokter atau perawat berbuat terhadap pasien. Kalau terdapat kesulitan, maka kesulitan itu harus ditanggulangi dan diatasi dengan cara yang sebaik-baiknya.

Bahaya bagi Kemurnian Ajaran Islam

Banyak sekali dalam Ayat-ayat Al Qur'an, Allah SWT , memberikan jaminan, bahwa dia pasti memelihara agamanya. Namun jaminan itu tidaklah berarti bahwa agama Islam berkembang dan terpelihara tanpa rintangan ancaman, hambatan dan bahaya- bahaya terhadap kemurniannya dan kelangsungan perkembangannya. Juga tidak berarti, bahwa kaum muslimin tidak perlu berjuang memelihara kemurnian agamanya, tidak perlu bersusah payah mengembangkan agamanya. Rasulullah SAW diharuskan berjuang untuk mengembangkan agama itu dengan susah payah, dengan penderitaan, bahkan berkali-kali jiwanya terancam dan mendapat luka-luka pada waktu berdakwah dan pada waktu berperang. Rasulullah SAW harus memberikan pengorbanan segala galanya demi tugasnya mengemban dan mengembangkan agama Islam.

Pada zaman ini pun, bahaya fisik bagi kaum muslimin yang harus dihadapi secara fisik pula masih terdapat di beberapa bagian dunia ini umpamanya di Palestina. Beratus ribu kaum muslimin Palestina harus mempertaruhkan jiwanya untuk dapat kembali dari kamp-kamp pengungsiannya ke negrinya, palestina. Mereka masih harus berjihad fisabilillah, bahkan ber-qital (perang) untuk pulang ke kampung halamannya, mendekati masjidil Aqsha.

Meskipun demikian, secara umum dan keseluruhan muslimin, terutama umat Islam Indonesia tidak lagi menghadapi bahaya fisik itu sebagai satu-satunya bahaya yang paling besar.

Sejak beberapa abad terakhir ini bahaya permanen yang selalu mengancam Islam, bahaya laten yang selalu muncul pada tiap kesempatan adalah serangan musuh Islam dalam wujud yang lain, yaitu serangan yang dilakukan oleh apa yang lazim disebut kaum orientalis.

Kaum orientalis ialah mereka, para cerdik cendikiawan yang tekun mempelajari masalah-masalah ketimuran terutama masalah Islam, tetapi sama sekali bukan untuk kepentingan Timur dan Islam. Bahkan sebaliknya, untuk menghancurkan timur dan Islam. Mereka belajar tentang Islam sedalam-dalamnya, belajar bahasa arab dan bahasa timur lainnya dengan segala kelengkapannya, dari sejarah, sosiologi, hukum dan adat istiadat Islam. Dari sudut keilmuan, mereka mungkin jauh lebih mengerti dari pada beberapa para sarjana Islam sendiri. Sayang maksudnya hanya satu: Menghancurkan Islam, sebagai kelanjutan dari perjuangan golongan mereka dalam perang salib. Secara fisik, perang salib memang sudah lama berakhir, tetapi secara ma'nawi ( politik, Ideologi dan kebudayaan ) berlangsung terus berabad-abad kemudian, sampai sekarang dan akan berlangsung seterusnya.

Medan perjuangan mereka mengancam kelangsungan dan kemurnian Islam sangat luas, tak terbatas. Senjata dan saluran perjuangan mereka, terutama adalah otak, pikiran dan imu, terutama ilmu tentang islam dan keislaman. Dengan ilmu dan dengan saluran ilmu, mereka berusaha:

1. Mengaburkan, kemudian mengoncangkan jalur agama Islam kedua, yaitu al-hadits. Mula-mula mereka membayang-bayangkan sesuatu yang pantas di ragukan, yaitu kemampuan seorang sahabat Abu hurairah ra., bagaimana seseorang mampu meriwayatkan Hadist sekian banyaknya. Dibayangkan pula keraguan terhadap kemampuan seorang imam Zuhri, bagaimana seseorang mampu mengumpulkan hadits yang bertebaran sedemikian rupa. Akhrinya mereka berusaha menggoncangkan keyakinan kaum muslimin akan adanya hadits-hadits yang shahih yang benar-benar dari Rasulullah saw. Kalau kaum muslimin sudah "kehilangan hadits" karena semua hadits diragukan kebenaran dan keasliannya, maka berarti sudah kehilangan jalur utama kepada al-Quir'an.
2. Menganjurkan penggunaan akal sebebas-bebasnya, karena Islam sendiripun menghargai akal dan pikiran. Mereka ingin menumbuhkan pendapat bahwa akal manusia cukup untuk mengatur segala-galanya. Sasaran terakhir mereka ialah supaya kaum muslimin lebih menampilkan akalnya dan mengesampingkan agamanya. Kalau sasaran ini sudah tercapai, maka dengan mudah mereka memompa otak kaum muslimin dengan teori, paham, dan doktrin ciptaan mereka, antara lain:
1. intelektualisme, yang pada pokoknya megajarkan bahwa dengan akal saja, manusia akan dapat mencapai segala hidupnya.
2. Materialisme, yang pada pokoknya mengajarkan bahwa yang paling menentukan hidup manusia adalah benda.
3. Sekularisme, yang pada pokoknya mengajarkan bahwa manusia harus dapat memisahkan masalah duniawi yang harus dijadikan urusan pokok dari masalah ukhrawi yang masih diragukan kebenarannya

Sudah tentu bahaya terhadap kelangsungan hidup dan kemurnian ajaran Islam tidak hanya datang dari orientalisme saja yang merupakan bahaya dari luar. bahaya yang ada dalam tubuh kaum muslimin sendiri, banyak juga meskipun sebagian berasal dari luar dan sudah lama berada di dalam, antara lain:

1. Sikap memihak yang berlebih-lebihan kepada seseorang atau sekelompok orang, baik karena motif kekeluargaan atau kekuasaan atau motif lainnya, sehingga cenderung mencari dalih dan dalil untuk membenarkan sikap sendiri. Hal ini mulai tampak pada ahir masa khalifah Utsman bin Affan, pada zaman ke khalifahan sahabat Ali bin Abi Thalib dan seterusnya dengan munculnya aliran Syi'ah dan Khawarij.
2. Masukknya pengaruh filsafat Yunani yang memunculkan aliran Mu'tazilah dan sebagainya.
3. Masih adanya sisa kepercayaan lama seperti Israiliyyat, Majusi, dan lain sebagainya. Sisa-sisa ini ditambah dan dikobarkan kembali dengan sengaja oleh unsur-unsur munafiqin. Di wilayah-wilayah baru yang didatangi oleh agama Islam, sisa-sisa kepercayaan lama ini pun merupakan sesuatu yang membahayakan kemurnian ajaran Islam. Tidak terkecuali di Indonesia.
4. Sikap "menentang yang lama" secara berlebih-lebih sehingga tergelincir oleh sikap "serba anti yang lama". Anti madzah, anti taqlid, anti ziarah kubur, dan lain sebagainya.

Segala kelemahan yang ada di dalam tubuh kaum muslimin itu sendiri itidak satupun yang terlepas dari perhatian kaum Orientalis untuk dipergunakan sebagai jalur penyalur usahanya mengeruhkan kemurnian Islam meskipun demikian, senjata ilmu yang mereka gunakan itu ahirnya mulai tampak menjadi "senjata makan tuan" ketekunan mereka mempelajari ilmu keislaman telah menjalar, menjadikan jumlah peminat itu semakin banyak. Di antara mereka yang tekun mempelajari ilmun keislaman ini tidak sedikit yang kemudian benar-benar menerima Islam sebagai satu kebenaran yang harus diikuti. Islam mulai berkembang di kalangan para sarjana itu terbuktilah kebenaran janji Allah SWT. Dalam firmanNya:
يَٟٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَتَّخِذُوٓا۟ ءَابَآءَكُمْ وَإِخْوَٟنَكُمْ أَوْلِيَآءَ إِنِ ٱسْتَحَبُّوا۟ ٱلْكُفْرَ عَلَى ٱلْإِيمَٟنِ ۚ

"Mereka ingin memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut-mulut mereka dan Allah tidak berkenan kecuali menyempurnakan Cahaya-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak suka." (QS. At-Taubah: 32).

Thursday, 3 June 2010

Ansor berubah nama ?

|0 komentar
AD/ART NU
Nama Ansor Resmi Berubah Jadi “Ansor NU”


Jakarta, NU Online
Jika pada Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) hasil muktamar 2004, nama badan otonom untuk laki-laki muda dibawah 40 tahun adalah Ansor, dalam AD/ART yang baru, nama tersebut dirubah menjadi “Ansor NU”.

Pada pasal 20 ayat 6e ART, yang mengkategorikan badan otonom berbasis usia dan kelompok masyarakat tertentu, ayat 6e berbunyi “Gerakan Pemuda Ansor Nahdlatul Ulama disingkat Ansor NU untuk anggota laki-laki muda Nahdlatul Ulama yang maksimal berusia 40 (empat puluh) tahun.

Rais Syuriyah PBNU KH Masdar F Mas’udi, yang juga ketua materi organisasi dalam muktamar ke-32 NU di Makassar menjelaskan, perubahan nama ini untuk alasan keseragaman karena seluruh badan otonom NU yang berbasis usia semuanya memiliki imbuhan NU, yaitu Muslimat NU, Fatayat NU, Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU).


Masdar meminta agar pengurus Ansor NU menyesuaikan seluruh simbol organisasi ini sesuai dengan AD/ART yang baru.

“Keputusan dalam AD/ART harus dipatuhi semua fihak, bukan hanya badan otonom, tetapi tanfidziyah dan syuriyah semuanya juga harus mematuhi,” tandasnya.

Dalam sejarahnya, organisasi kepemudaan NU diinisiasi pertama kali pada tahun 1931 dengan nama Persatuan Pemuda Nahdlatul Ulama (PPNU). Kemudian tanggal 14 Desember 1932, PPNU berubah nama menjadi Pemuda Nahdlatul Ulama (PNU). Pada tahun 1934 berubah lagi menjadi Ansor Nahdlatul Oelama (ANO). Meski ANO sudah diakui sebagai bagian dari NU, namun secara formal organisasi belum tercantum dalam struktur NU, hubungannya masih hubungan personal.

Baru pada muktamar NU ke-9 di Banyuwangi, tepatnya pada tanggal 21-26 April 1934, ANO diterima dan disahkan sebagai Departemen Pemuda NU, satu tingkat dengan bagian da’wah, ekonomi, mubarrot dan Ma’arif.

Pada tanggal 14 Desember 1949 berlangsung di kantor PB ANO Jl. Bubutan VI/2 Surabaya. Pertemuan bersejarah itu dihadiri oleh menteri agama RIS KH.A. Wahid Hasyim. KH.A Wahid Hasyim mengemukakan pentingnya membangun kembali organisasi Pemuda Ansor karena dua hal: (1) Untuk membentengi perjuangan umat Islam Indonesia; (2) Untuk mempersiapkan diri sebagai kader penerus NU.

Dari pengarahan KH.A. Wahid Hasyim kemudian lahir kesepakatan: Membangun kembali organisasi ANO dengan nama baru: Gerakan Pemuda Ansor disingkat Pemuda Ansor, hanya kemudian dipergunakan GP Ansor karena lebih populer, disepakati Pucuk Pimpinan berkedudukan di Surabaya.

Tuesday, 20 April 2010

Susunan PBNU 2010-2015

|0 komentar
MUSTASYAR

Prof Dr KH Tholchah Hasan
KH Muchit Muzadi
KH Maemun Zubair
KH Ma'ruf Amin
KH Idris Marzuki
KH E Fakhrudin Masturo
KH Chotib Umar
Susunan PBNU 2010-2015

MUSTASYAR

Prof Dr KH Tholchah Hasan
KH Muchit Muzadi
KH Maemun Zubair
KH Ma'ruf Amin
KH Idris Marzuki
KH E Fakhrudin Masturo
KH Chotib Umar
KH Dimyati Rois
Tuan Guru Turmudzi Badruddin
Dr HM Jusuf Kalla
KH Abdurrahim Mustafa
Prof Dr KH Maghfur Usman
Prof Dr Nasaruddin Umar, MA
KH Sya’roni Ahmadi
Prof Dr Ridhwan Lubis
KH Muiz Kabri
KH Mahfudl Ridwan
Dr Ing H Fauzi Bowo
KH A Syatibi


PENGURUS HARIAN SYURIYAH

Rais Am : Dr KH MA Sahal Mahfudh
Wakil : Dr KH A Musthofa Bisri
Rais : Habib Luthfi bin Hasyim bin Yahya
Rais : KH AGH Sanusi Baco
Rais : Dr KH Hasyim Muzadi
Rais : KH Masduqi Mahfudh
Rais : KH Hamdan Kholid
Rais : KH Masdar Farid Mas’udi, MA
Rais : KH Mas Subadar
Rais : Prof Dr Machasin, MA
Rais : Prof Dr KH Ali Musthofa Yaqub
Rais : Prof Dr H Artani Hasbi
Rais : KH Ibnu Ubaidillah Syatori
Rais : KH Saifuddin Amtsir, MA
Rais : KH Adib Rofiuddin Izza
Rais : KH Ahmad Ishomuddin MAg

Katib Am : Dr KH Malik Madani
Katib : KH Drs Ichwan Syam
Katib : KH Musthofa Aqil
Katib : KH Kafabihi Mahrus Ali
Katib : KH Yahya Staquf Cholil
Katib : KH Shalahuddin al-Ayyubi, MSi
Katib : KH Afifuddin Muhajir
Katib : KH Mujib Qolyubi MHum


PENGURUS HARIAN TANFIDZIYAH

Ketua Umum : Dr KH Said Aqil Siradj, MA
Wakil Ketua Umum : Drs H As'ad Said Ali
Ketua : Drs H. Slamet Effendi Yusuf, MSi
Ketua : KH Hasyim Wahid Hasyim
Ketua : KH Abbas Muin, MA
Ketua : Drs H Muh. Salim al-Jufri
Ketua : Prof Dr H Maksum Mahfudz
Ketua : Prof Dr Maidir Harun
Ketua : Drs H Saifullah Yusuf
Ketua : Drs M Imam Azis
Ketua : Drs H Hilmi Muhammadiyah, MSi
Ketua : Drs H Abdurrahman, MPd
Ketua : Drs H Arvin Hakim Thoha
Ketua : Dr KH Marsudi Syuhud
Ketua : Prof Dr Kacung Marijan
Ketua : H Dedi Wahidi SPd, MSi

Sekretaris Jenderal : Ir HM Iqbal sulam
Wakil Sekjen : Drs H Enceng Shobirin
Wakil Sekjen : Drs H Abdul Mun'im DZ
Wakil Sekjen : Dr H Aji Hermawan
Wakil Sekjen : Dr H Affandi Muchtar
Wakil Sekjen : Dr dr Syahrizal Syarif, MPH
Wakil Sekjen : Dr H Hanif Saha Ghofur
Wakil Sekjen : Imdadun Rahmat, MA

Bendahara : Dr H Bina Suhendra
Wakil Bendahara : Dr H Zainal Abidin HH
Wakil Bendahara : Nasirullah Falah
Wakil Bendahara : H Raja Sapta Ervian, SH MHum
Wakil Bendahara : Hamid Wahid Zaini, MAg

SUSUNAN PENGURUS MWC NU JEKULO

|0 komentar
MUSTASYAR :
KH Ahmad Basyir
KH Syafiq Naskhan
KH Hambali Al-Khafidz
KH Abdurrohman Al-Khafidz
KH Mahmudi Amam
MUSTASYAR :
KH Ahmad Basyir
KH Syafiq Naskhan
KH Hambali Al-Khafidz
KH Abdurrohman Al-Khafidz
KH Mahmudi Amam
KH Rodli

Rois Syuriah : KH Mujahid Dahlan
Wakil : KH Hamdi LC
Wakil : KH Drs Mohammad Afif
Wakil : KH Abdul Wachid

Katib Syuriah : Drs H. Ahmad Sururi
Wakil : K Maskur Anwar
Wakil : H. Faqihuddin
A’WAN : KH Muhammad Abdullah
KH M Qoid
K. Muhammadun
KH Khalimi
K Nur Mukhlis

Ketua Tanfidziyah : H Shulhan BA
Wakil : H Ali Muhtadi
Wakil : H Edris, SE. MM
Wakil : M. Khafidz SAg
Wakil : Drs. H. Slamet Raharjo
Wakil : H. Miftahuddin

Sekretaris : H. Zusni Anwar S.H.I
Wakil : M. Romli SAg
Wakil : H. Gufron Zaeni
Wakil : M. Sya’roni

Bendahara : H Nor Qosim
Wakil : M. Milkhan SAg

LEMBAGA-LEMBAGA

1. DA’WAH : K Tamam
K Sholikhan
Sutiyono
2. MA’ARIF : Asy’ady Al Qudsy
Fatoni, SAg
M. Rois, M.Ag
H. Zaenal Arifin

3. MABAROT : Drs. Ilwani
M. Rif’an
H Marzuki
Drs. Mashudi

4. EKONOMI : H. Suharyanto M.Pd
H Mohamad Kartono S.Pd
H. Supa’at Surino
Subiyanto

LAJNAH-LAJNAH

1. PERTANIAN : Samudi
Hadi Supiyo
H. Mulyono Abbas

2. TA’MIR MASJID : Drs Edy Bachtiar, M.Ag
K. Mujib Muhammad
K. Masruri

3. Bahtsul Masa’il : H. Jupri
Muhsi Siroj
Sihabudin M.Ag
Achid Arifuddin

4. Khotmil Qur’an : Jamaluddin S.Ag
Mudhofar
Musyafa’ SAg

5. WAKAF : Suhardi, S.Ag
Mokh Nichan
KH. Khalimi

6. KBIH : H. Samito
Drs H. Rumadi, M.Ag
H. Mohammad Ngasno, S.Pd
Mobil Bekas
Pasang Iklan Rumah
Kontak Jodoh